Defek Septum Atrium: Patofisiologi, Diagnosis, Tatalaksana, dan Pembedahannya

Defek Septum Atrium: Patofisiologi, Diagnosis, Tatalaksana, dan Pembedahannya


Defek Septum Atrium
Credit: wikipedia(dot)org


Defek septum atrium (DSA) adalah defek pada sekat jantung yang memisahkan atrium kiri dan kanan, sehingga terjadi pirau dari atrium kiri ke atrium kanan dengan peningkatan beban volume di atrium dan ventrikel kanan. Defek septum atrium terdiri dari DSA primum, sekundum, tipe sinus venosus, dan tipe sinus koronarius. Defek septum atrium merupakan bentuk PJB (Penyakit Jantung Bawaan) terbanyak kedua setelah defek septum ventrikel dengan prevalensi sekitar 7-10%, dan 80% di antaranya merupakan DSA sekundum. (Bernstein, 2007)

Secara anatomis DSA dibagi menjadi DSA primum, sekundum, tipe sinus venosus, dan tipe sinus koronarius. Pada DSA primum terdapat defek pada bagian bawah septum atrium, yaitu pada septum atrium primum. Selain itu, pada DSA primum sering pula terdapat celah pada daun katup mitral. Kedua keadaan tersebut menyebabkan pirau dari atrium kiri ke kanan dan arus sistolik dari ventrikel kiri ke atrium kiri melalui celah pada katup mitral (regurgitasi mitral).

Pada tipe sinus venosus defek septum terletak di dekat muara vena kava superior atau inferior dan sering disertai dengan anomali parsial drainase vena pulmonalis, yaitu sebagian vena pulmonalis kanan bermuara ke dalam atrium kanan. Pada tipe sinus koronarius defek septum terletak di muara sinus koronarius. Pirau pada DSA sinus koronarius terjadi dari atrium kiri ke sinus koronarius, baru kemudian ke atrium kanan. Pada kelainan ini dapat ditemukan sinus koronarius yang membesar. (Bernstein, 2007)

Pada DSA sekundum terdapat lubang patologis pada fosa ovalis. Defek septum atrium sekundum dapat tunggal atau multipel (fenestrated atrial septum). Defek yang lebar dapat meluas ke inferior sampai pada vena kava inferior dan ostium sinus koronarius, ataupun dapat meluas ke superior sampai pada vena kava superior. (Bernstein, 2007)

Patofisiologi Defek Septum Atrium


Derajat pirau dari atrium kiri ke atrium kanan tergantung pada besarnya defek, komplians relatif ventrikel kanan dan resistensi relatif vaskular pulmonal. Pada defek yang besar, sejumlah darah yang teroksigenasi (dari vena pulmonal) mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan, menambah jumlah darah vena yang masuk ke atrium kanan (venous return).

Total darah tersebut kemudian dipompa oleh ventrikel kanan ke paru. Aliran darah balik dari paru ke atrium kiri akan terbagi menjadi dua, yaitu ke atrium kanan melalui defek dan ke ventrikel kiri. Pada defek yang besar, rasio aliran darah pulmonal dibandingkan sistemik (Qp/Qs) dapat berkisar antara 2:1 sampai 4:1. (Bernstein, 2007)

Gejala asimtomatis pada bayi dengan DSA terkait dengan resistensi paru yang masih tinggi dan struktur ventrikel kanan pada masa awal kehidupan, yaitu dinding otot ventrikel kanan yang masih tebal dan komplians yang kurang, sehingga membatasi pirau kiri ke kanan. Seiring dengan bertambahnya usia, resistensi vaskular pulmonal berkurang, dinding ventrikel kanan menipis dan kejadian pirau kiri ke kanan melalui DSA meningkat.

Peningkatan aliran darah ke jantung sisi kanan akan menyebabkan pembesaran atrium dan ventrikel kanan serta dilatasi arteri pulmonalis. Resistensi vaskular pulmonal tetap rendah sepanjang masa anak-anak, meskipun dapat mulai meningkat saat dewasa dan menyebabkan pirau yang berlawanan dan terjadi sianosis. (Bernstein, 2007)

Gambaran Klinis Defek Septum Atrium


Sebagian besar pasien dengan DSA sekundum mempunyai gejala yang asimtomatis, terutama pada masa bayi dan anak kecil. Tumbuh kembang biasanya normal, namun jika pirau besar, pertumbuhan dapat terganggu. Pada anak yang lebih besar, dapat dijumpai intoleransi terhadap beberapa latihan fisik. Bila pirau cukup besar maka pasien dapat mengalami sesak napas dan sering mengalami infeksi paru. (Bernstein, 2007)

Pada DSA umumnya besar jantung normal atau hanya sedikit membesar dengan pulsasi ventrikel kanan yang teraba pada garis sternum kiri. Komponen aorta dan pulmonal bunyi jantung II dapat terbelah lebar (wide split), yang disebabkan oleh beban volume di ventrikel kanan sehingga waktu ejeksi ventrikel kanan bertambah lama. Split tersebut tidak berubah baik pada saat inspirasi maupun ekspirasi (fixed split).

Pada keadaan normal, durasi ejeksi ventrikel kanan bervariasi sesuai siklus pernapasan, yaitu peningkatan volume ventrikel kanan dan penutupan katup pulmonal yang terlambat saat inspirasi. Pada DSA, volume diastolik ventrikel kanan meningkat secara konstan dan waktu ejeksi memanjang sepanjang siklus pernapasan. Pada defek yang sangat besar dapat terjadi variasi split sesuai dengan siklus pernapasan. (Christensen, et al., 2005)

Pada defek kecil sampai sedang bunyi jantung I normal, namun pada defek besar bunyi jantung I dapat mengeras. Bising ejeksi sistolik terdengar di daerah pulmonal (garis sternum kiri tengah dan atas) akibat aliran darah yang berlebih melalui katup pulmonal (stenosis pulmonal relatif atau fungsional). Aliran darah yang memintas dari atrium kiri ke kanan melalui defek tidak menimbulkan bising karena perbedaan tekanan yang kecil antara atrium kanan dan kiri.

Selain itu, dapat pula terdengar bising diastolik di daerah trikuspid (tricuspid diastolic flow murmur, mid-diastolic murmur), yaitu di garis sternum kiri bawah, yang terjadi akibat aliran darah yang berlebih melalui katup trikuspid pada fase pengisian cepat ventrikel kanan. Bising ini hanya akan terdengar bila rasio Qp/Qs lebih dari 2:1. Bising tersebut terdengar keras pada saat inspirasi dan melemah pada ekspirasi. (Christensen, et al., 2005)

Diagnosis Defek Septum Atrium


Pasien dengan DSA sekundum dapat memberikan gejala asimtomatis atau gambaran klinis yang nonspesifik, seperti gangguan pertumbuhan dan infeksi saluran napas. Pada sebagian besar kasus, diagnosis DSA dipikirkan saat ditemukan bising jantung yang mencurigakan selama pemeriksaan rutin. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu penegakkan diagnosis DSA antara lain foto toraks, elektrokardiografi, dan ekokardiografi.

Foto toraks anterior-posterior (AP) dapat menunjukkan atrium kanan yang menonjol dengan konus pulmonalis yang menonjol. Pada foto toraks AP juga dapat menunjukkan jantung yang sedikit membesar dan vaskularisasi paru yang bertambah sesuai dengan besarnya pirau.2,3 Pembesaran jantung sering terlihat pada foto toraks lateral karena ventrikel kanan menonjol ke anterior seiring dengan peningkatan volume. (Bernstein, 2007)

Elektrokardiogram dapat menunjukkan adanya right bundle branch block (RBBB) pada 95% kasus DSA sekundum, yang menunjukkan adanya kelebihan beban volume ventrikel kanan. Pada DSA sekundum terjadi deviasi sumbu QRS ke kanan (right axis deviation). (Bernstein, 2007) Hipertrofi ventrikel kanan dapat ditemukan, namun pembesaran atrium kanan jarang ditemukan. (Park, 2008)

Ekokardiogram dapat menunjukkan letak DSA, ukuran defek, dan karakteristik volume ventrikel kanan yang berlebih, yaitu peningkatan dimensi diastolik akhir ventrikel kanan dan gerakan paradoksal septum ventrikel. Septum yang normal bergerak ke posterior saat sistol dan bergerak ke anterior saat diastol.

Adanya beban volume berlebih pada ventrikel kanan dan resistensi vaskular pulmonal yang normal menyebabkan gerakan septum terbalik, yaitu bergerak ke anterior saat sistol. Pemeriksaan ekokardiografi Doppler berwarna dapat menunjukkan dengan jelas pirau dari atrium kiri ke kanan. (Bernstein, 2007) Selain itu dapat ditemukan regurgitasi trikupsid ringan, yang disebabkan oleh dilatasi ventrikel kanan dan atrium kanan yang meregangkan anulus katup trikuspid. (Park, 2008)

Pasien dengan DSA tidak selalu menunjukkan kelainan pada pemeriksaan fisis dan hasil elektrokardiogram yang khas, sehingga diperlukan pemeriksaan ekokardiografi untuk menunjukkan adanya pirau kiri ke kanan pada DSA. (Christensen, et al., 2005)

Tatalaksana Defek Septum Atrium


Penutupan DSA akan menghilangkan pirau kiri ke kanan yang menyebabkan pengurangan kerja jantung, mengurangi beban volume atrium dan ventrikel kanan, dan mengembalikan aliran darah pulmonal ke keadaan yang normal.8 Pilihan tata laksana penutupan DSA meliputi intervensi pembedahan dan intervensi kardiologi non-bedah. (Madiyono, et al., 2005)

Pembedahan Defek Septum Atrium


Prosedur pembedahan dilakukan pada DSA yang memiliki beban volume berlebih pada ventrikel kanan akibat pirau kiri ke kanan, yang ditunjukkan dengan rasio Qp/Qs lebih dari 2:1. (Baskett, 2003) Terapi pembedahan tidak hanya digunakan pada penutupan DSA sekundum, namun juga pada DSA primum, sinus venosus, atau sinus koronarius. Defek septum atrium tipe primum dan sinus venosus sering dikaitkan dengan abnormalitas pembuluh darah pulmonal atau katup atrioventrikular yang memerlukan terapi pembedahan. (Madiyono, et al., 2005)

Prosedur pembedahan dilakukan melalui insisi midsternum dengan bantuan pintasan jantung paru (cardiopulmonary bypass), dan defek ditutup baik dengan jahitan sederhana (suture) atau dengan patch. (Park, 2008) Tingkat efektivitas prosedur pembedahan berkisar antara 90-100% dan jarang menimbulkan kematian atau membutuhkan reoperasi.

Angka ketahanan hidup (survival) pasca pembedahan pada pengamatan jangka panjang mencapai 98%. Komplikasi yang  sering terjadi adalah efusi pleura dan aritmia. Prosedur pembedahan memerlukan masa pemulihan dan perawatan di rumah sakit yang cukup lama, dengan trauma bedah (luka operasi) dan trauma psikis. (Baskett, et al., 2003)

Saat ini terdapat metode bedah invasif minimal dengan insisi kulit yang lebih kecil, biasanya melalui torakotomi anterolateral kanan dan dilakukan pada pasien perempuan. Metode ini memberikan hasil kosmetik yang lebih baik dibandingkan dengan bedah konvensional. (Formigari, et al., 2001)

Tindakan pembedahan sebaiknya dilakukan pada usia di atas 1 tahun dan sebelum anak masuk sekolah (early childhood), karena risiko morbiditas dan mortalitas pembedahan lebih besar saat dewasa. (Bolz, et al., 2005) Apabila ditunda dapat terjadi penyulit seperti aritmia, hipertensi pulmonal, prolaps katup mitral, atau regurgitasi trikuspid. Pasien pasca-bedah tidak memerlukan tindakan profilaksis terhadap endokarditis infektif. (Bernstein, 2007)


PULSA GRATIS!!!

Kamu punya blog atau punya akses untuk mengelola blog milik instansi tertentu (dinas, puskesmas, RS, universitas, dll)?
dan kamu mau PULSA GRATIS?

Buat artikel yang terkait dg artikel ini atau artikel lain di blog ini, lalu cantumkan URL artikelnya pada artikel kamu sebagai tambahan bacaan. Artikelnya gak perlu panjang-panjang kok, minimal 200 kata sudah boleh. Kalo kamu ada artikel lama yang tinggal diedit untuk ditambahkan URL artikel kami, itu lebih bagus lagi ^_^

Setelah kamu ada artikelnya, beritahu kami dengan cara kirim pesan kepada kami langsung dari menu "Hubungi kami" yang berisi nama kamu, nomor HP, dan URL artikel yang kamu buat.

Kami akan menyeleksi peserta yang memenuhi syarat lalu secara acak akan memilih peserta yang beruntung setiap bulannya untuk mendapatkan pulsa gratis sebesar Rp 20.000,-

Yuk, ikutan! kapan lagi bisa dapat pulsa gratis dengan mudah, hehe :D

Untuk mengirim pesan dan jika ada pertanyaan, hubungi kami disini >> http://www.sainsphd.com/p/hubungi-kami.html

Title : Defek Septum Atrium: Patofisiologi, Diagnosis, Tatalaksana, dan Pembedahannya
URL : https://sains-phd.blogspot.com/2017/07/defek-septum-atrium.html

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »