Tampilkan postingan dengan label Pediatri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pediatri. Tampilkan semua postingan

Proses Resusitasi Neonatus: Gawat pada Bayi Baru Lahir

Proses Resusitasi Neonatus: Gawat pada Bayi Baru Lahir


Resusitasi Neonatus
Credit: media(dot)defense(dot)gov (modifikasi)


Apa Itu Resusitasi Neonatus?


Resusitasi adalah usaha untuk membantu ventilasi, oksigenasi dan curah jantung yang cukup untuk memasok oksigen ke otak, jantung dan organ vital lainnya. Resusitasi dilakukan dengan kompresi jantung dan memberikan pernapasan buatan. Resusitasi mengandung arti kata "menghidupkan kembali", yaitu usaha yang dilakukan untuk menghilangkan episode serangan jantung sampai kematian biologis. Neonatus adalah bayi yang baru lahir. Jadi resusitasi neonatus adalah resusitasi yang dilakukan pada bayi baru lahir.




Kapan Resusitasi Neonatus Dilakukan?


Bayi yang baru lahir yang tidak memerlukan resusitasi dapat dikenali secara umum pada saat kelahiran dengan cepat menilai jawaban atas 3 pertanyaan berikut:

(1) Apakah usia kehamilan cukup?

(2) Apakah tonus (pergerakan) bayi baik / aktif?

(3) Apakah bayi bernapas atau menangis?

Jika jawaban untuk semua 3 pertanyaan di atas adalah "iya," maka bayi yang baru lahir tersebut dapat langsung diberikan tindakan / perawatan biasa. Perawatan biasa yang dimaksud adalah bayi segera dibersihkan, bayi ditaruh untuk sentuhan kulit ke kulit dengan ibu, dan lalu bayi diselimuti dengan linen kering untuk menjaga suhu tetap normal. Namun, pengamatan pola pernapasan, aktivitas / pergerakan, dan warna kulit harus terus dilakukan.

Di kasus yang lain, jika jawaban atas 3 pertanyaan tadi adalah "tidak," maka bayi harus dipindahkan ke inkubator yang hangat untuk kemudian diberikan 1 atau lebih dari 4 tindakan berikut secara berurutan:

(1) Langkah awal dalam stabilisasi (menjaga suhu normal, menjaga posisi, membersihkan sekret jika ia berlebihan dan / atau menghalangi jalan nafas, mengeringkan bayi, dan melakukan stimulasi)

(2) Tindakan ventilasi dan oksigenasi

(3) Melakukan kompresi dada

(4) Memberikan epinefrin dan / atau cairan IV

Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan langkah awal, mengevaluasi kembali, dan memulai ventilasi lebih lanjut yang diperlukan adalah kira-kira selama 60 detik pertama yang juga disebut sebagai Golden Minute. Penting untuk menghindari penundaan yang tidak perlu dalam inisiasi ventilasi, karena inilah langkah paling penting untuk resusitasi neonatus yang berhasil yang belum berespons terhadap tindakan awal yang sudah dilakukan.

Keputusan memberikan tindakan lebih lanjut ditentukan dengan penilaian simultan dari 2 karakteristik vital yaitu respirasi (adanya apnea, napas terengah-engah, atau masalah lain pada pernafasan) dan detak jantung (jika ia kurang dari 100 kali per menit). Setelah tindakan ventilasi tekanan positif (PPV) atau pemberian oksigen tambahan dimulai, penilaian harus mencakup evaluasi simultan dari 3 karakteristik vital yaitu detak jantung, respirasi, dan saturasi oksigen (Kattwinkle, 2010).

Bagaimana Indikator Untuk Menentukan Kebutuhan Resusitasi Neonatus?


Perlu penilaian yang akurat dan cepat untuk menentukan kapan resusitasi neonatus dilakukan.

(1) Indikator Pernapasan

Resusitasi dilakukan bila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernapas atau tidak bernafas secara adekuat. Lihatlah gerakan dada, irama, dan frekuensi pernapasan awal selama 1 menit. Napas yang tidak adekuat artinya pernapasan tidak efektif dan perlu dilakukan tindakan segera. Pernapasan efektif pada bayi normal biasanya 30 - 50 kali per menit atau jika bayi tersebut menangis kuat. Jika pernapasan sudah adekuat, maka kita dapat beralih ke penilaian selanjutnya.

(2) Indikator Detak Jantung

Resusitasi dilakukan segera bila penilaian detak jantung menunjukkan denyut jantung tidak teratur pada bayi. Frekuensi denyut jantung haruslah lebih dari 100 kali per menit. Cara termudah dan tercepat adalah menggunakan stetoskop atau meraba tali pusar. Meraba arteri bisa menggambarkan detak jantung bayi secara terus menerus. Bisa dilakukan penghitungan selama 6 detik, hasil kemudian dikalikan 10 maka didapatkanlah  frekuensi denyut jantung selama 1 menit.

Jika frekuensinya lebih dari 100 kali per menit dan bayi bernafas secara spontan, lanjutkan dengan menilai warna kulit. Bila frekuensi kurang dari 100 kali per menit namun pernapasan bayi spontan, hal ini bisa  menjadi tanda untuk dilakukannya Positive Pressure Ventilation.

(3) Indikator Warna Kulit

Resusitasi dilakukan bila penilaian warna kulit menunjukkan sianosis (kebiruan). Jika penilaian indikator pernapasan dan frekuensi jantung menunjukkan hasil yang baik, kulit seharusnya menunjukkan warna kemerahan. Jika masih ada sianosis sentral, oksigen dapat diberikan. Jika sianosis bersifat perifer, oksigen tidak perlu diberikan, karena peredaran darah pada bayi baru lahir memang masih lamban, atau sebagian kasus bisa disebabkan karena suhu kamar bersalin yang dingin.

Kondisi Apa yang Membutuhkan Resusitasi Neonatus?


Berikut adalah beberapa kondisi yang memerlukan tindakan resusitasi neonatus:

(1) Obstruksi jalan nafas: bisa karena lendir / darah / mekonium, atau karena lidah yang jatuh ke bagian posterior (belakang).

(2) Kondisi depresi pernapasan akibat obat yang diberikan kepada ibu misalnya obat anestesi, analgesik lokal, narkotika, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya.

(3) Kerusakan neurologis atau kerusakan sistem saraf pusat.

(4) Kelainan jalan nafas atau sistem kardiovaskular, maupun kelainan bawaan lain yang menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan dan peredaran darah.

(5) Syok hipovolemik misalnya karena kompresi tali pusat atau perdarahan

Resusitasi penting dilakukan pada beberapa menit pertama kehidupan. Jika tindakan terlambat, meskipun bisa selamat dari kematian keterlambatan ini bisa jadi berakibat buruk bagi kualitas hidup bayi di masa yang akan datang.

Antisipasi Kebutuhan Resusitasi Neonatus


Setiap kelahiran harus dihadiri oleh setidaknya 1 orang yang dapat melakukan langkah awal resusitasi bayi dan PPV. Dengan adanya faktor risiko perinatal yang signifikan yang meningkatkan kemungkinan kebutuhan resusitasi, personil tambahan dengan kemampuan resusitasi, termasuk kompresi dada, intubasi endotrakeal, dan pemasangan kateter umbilikalis vena, harus segera tersedia (Aziz, 2008; Zaichkin, 2011).

Hal Apa Saja yang Perlu Dilakukan dalam Resusitasi Neonatus?


(1) Tenaga yang profesional dan kerja sama tim yang baik.

(2) Pemahaman tentang fisiologi dasar proses asfiksia pernafasan, kardiovaskular, dan progresif pada neonatus.

(3) Kemampuan dalam pemantauan, mengatur suhu dan penggunaan alat.

(4) Obat dan cairan yang dibutuhkan selama proses resusitasi neonatus.

Persiapan Resusitasi Neonatus


Pada setiap persalinan, penolong harus selalu siap untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir. Kesiapan ini penting agar bisa terhindar dari kehilangan waktu sangat berguna untuk usaha dalam pemberian pertolongan segera. Dalam waktu keterlambatan yang hanya kurang dari beberapa menit, neonatus mungkin akan menderita kerusakan otak yang parah atau bahkan meninggal.

(1) Persiapan Keluarga

Sebelum memberikan bantuan, bicaralah kepada keluarga tentang kemungkinan yang mungkin terjadi pada ibu dan bayi serta persiapan yang dilakukan oleh penolong untuk membantu memperlancar pengiriman dan mengambil tindakan yang diperlukan.

(2) Persiapan Tempat Resusitasi

Persiapan dibutuhkan untuk ruang persalinan dan tempat resusitasi. Gunakan ruangan yang hangat dan terang. Tempatkan lingkungan resusitasi yang sesuai, datar, bersih dan kering.

Kondisi datar diperlukan untuk menyesuaikan posisi kepala bayi. Tempat resusitasi sebaiknya dilakukan di tempat hangat dan tidak banyak angin (jendela atau pintu terbuka). Lampu sorot atau lampu 60 dapat digunakan sebagai penghangat karena neonatus sangat rentan mengalami hipotermia.

(3) Persiapan Peralatan Resusitasi

Sebelum melakukan proses persalinan, selain alat-alat persalinan, persiapkan juga peralatan resusitasi yang dalam keadaan siap pakai yaitu antara lain: 2 helai kain / tapal, penopang bahu bayi (bisa dari kain, baju, selendang, kecil, digulung setinggi 5 cm dan mudah disesuaikan untuk disesuaikan posisi kepala bayi), alat suction atau bola karet penghisap untuk membebaskan jalan nafas dari lendir dan hal lain, kotak alat resusitasi lengkap, dan lain-lain.

Bagaimana Langkah Resusitasi Neonatus?


Sebelum persalinan dimulai, sebaiknya ketahui terlebih dahulu informasi berikut:

(1) Apakah kehamilan cukup bulan atau tidak?

(2) Apakah cairan amnion bercampur dengan mekonium atau tidak?

Setelah bayi lahir, lakukan penilaian berikut:

(1) Apakah bayi bernafas adekuat atau menangis kuat?

(2) Apakah tonus otot atau pergerakan bayi bagus?

Hasilnya dapat dikatakan baik jika: bayi cukup bulan, cairan amnion tidak tercampur dengan mekonium, tangisan bayi kencang, serta tonus ototnya bagus. Jika hasil pengkajian sudah baik, maka berikan perawatan biasa untuk neonatus yaitu: berikan kehangatan, bersihkan jalan napas, dan keringkan / lap bayi.

Jika hasil pengkajian tidak bagus, maka lakukanlah hal berikut:

A. Airway (Jalan Nafas)

(1) Jaga agar bayi tetap hangat.
Tutupi bayi dengan kain dan pindahkan bayi ke tempat resusitasi.

(2) Posisikan bayi.
Letakkan bayi dengan kepala di dekat penolong. Ganjal bagian bahu agar kepala berada pada posisi sedikit ekstensi. Berikan posisi dengan hidung dan mulut dalam garis lurus.

(3) Hisap lendir.
Dengan alat pengisap atau bola karet, pertama-tama hisap lendir di mulut, lalu kemudian lendir pada hidung. Lakukan penghisapan lendir sambil menarik keluar alat pengisap (bukan saat alat dimasukkan). Saat menggunakan alat pengisap, jangan masukkan ujung alat pengisap lebih dari 5 cm ke dalam mulut atau lebih dari 3 cm ke dalam hidung karena bisa menyebabkan detak jantung bayi menjadi lambat atau bisa juga menghentikan pernapasan bayi.

(4) Keringkan dan lakukan stimulasi taktil.
Keringkan bayi dari wajah, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan. Lakukan stimulasi taktil dengan cara berikut: menepuk atau menjentik telapak kaki, ataupun bisa juga dengan menggosok punggung, perut, dada atau kaki bayi dengan telapak tangan. Perlu diingat bahwa rangsangan yang terlalu kasar, keras atau terus-terus, tidak akan banyak membantu, ia bahkan bisa membahayakan kondisi bayi.

5. Lakukan reposisi.
Ganti kain basah dengan kain yang bersih dan kering. Tutupi bayi dengan kain, jangan tutup wajah dan dada agar pernapasan bayi tidak terganggu. Atur ulang posisi kepala bayi (sedikit ekstensi). Lakukan penilaian apakah bayi menangis kuat atau bernafas secara spontan dan teratur.

6. Kaji apakah bayi bernafas normal, terengah-engah atau tidak bernafas.
Lakukan evaluasi yang meliputi: pernafasan, frekuensi jantung, serta warna kulit bayi (apakah kebiruan). Jika bayi bernafas, frekuensi jantung lebih dari 100 kali per menit, dan kulit tidak kebiruan, maka berikan perawatan suportif.

B. Breathing (Pernafasan)

Bila frekuensi jantung kurang dari 100 kali per menit dan terjadi apnea, maka dapat dilakukan ventilasi tekanan positif segera. Ventilasi adalah bagian dari proses resusitasi alveoli dengan tujuan memasukkan tekanan udara positif ke dalam alveoli paru sehingga bayi bisa bernafas secara spontan dan teratur.

(1) Pasang sungkup masker pada mulut dan hidung, perhatikan agar tidak ada celah.

(2) Ventilasi 2 kali dengan tekanan 30 cmH2O, amati gerakan dada bayi. Tekanan awal ini sangat penting untuk membuka alveloli paru sehingga bayi bisa mulai bernapas dengan spontan.

Lihat apakah dada bayi mengembang, jika tidak maka periksa apakah posisi kepala sudah benar, dan periksa pemasangan masker. Jika dada mengembang, maka lakukan tahap selanjutnya. Adekuatnya ventilasi dinilai dengan menilai pengembangan dinding dada dan auskultasi suara nafas. Jika bayi sudah mulai bernafas spontan, frekuensi jantung lebih dari 100 kali per menit, dan kulit sudah kemerahan, maka lakukan perawatan lanjut.

C. Circulation (Sirkulasi)

Setelah melakukan ventilasi tekanan positif, namun frekuensi jantung kurang dari  60 kali per menit maka lakukan kompresi dada. Kompresi dinding dada bisa dilakukan dengan melingkari dinding thoraks kemudian dua ibu jari menekan sternum atau bisa juga dengan cara memegang punggung bayi dengan satu tangan dan jari telunjuk serta jari tengah tangan lainnya menekan sternum.

Teknik dengan ibu jari lebih diutamakan karena kontrolnya lebih baik. Tekanan diberikan di bagian bawah sternum dengan kedalaman kurang lebih 1,5 cm dan dengan frekuensi 90 kali per menit.

Setiap kompresi dada 3 kali, kemudian dilakukan ventilasi 1 kali sehingga ada ventilasi 30 kali setiap menitnya. Perbandingan kompresi dan ventilasi yang dianjurkan adalah 3:1.

Evaluasi detak jantung dan warna kulit dilakukan setiap 30 detik. Bayi yang tidak merespon, kemungkinan menunjukkan adanya ventilasi yang tidak adekuat, maka dari itu sangat penting untuk menilai ventilasi bayi secara terus menerus.

D. Drug (Obat)

Jika frekuensi jantung kuang dari 60kali per menit, berikan Epinefrin

Proses Post Resusitasi Neonatus


Perawatan pasca perawatan diberikan sesuai dengan keadaan bayi setelah menerima tindakan resusitasi. Resusitasi berhasil saat pernapasan bayi menjadi spontan dan teratur, warna kulit kembali normal kemudian terjadi peningkatan tonus otot atau gerakan aktif.

Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan setelah proses resusitasi neonatus berhasil:

(1) Jelaskan kepada ibu dan keluarga tentang hasil resusitasi yang telah dilakukan. Jawab pertanyaan yang diajukan.

(2) Ajarkan ibu bagaimana menilai pernapasan dan menjaga tubuh bayi tetap hangat. Jika kelainan ditemukan, anjurkan untuk segera menghubungi penolong.

(3) Sarankan ibu unutk segera memberikan ASI kepada bayinya. Bayi dengan masalah pernafasan membutuhkan banyak energi. Menyusui dengan segera, bisa mensuplai energi yang dibutuhkan.

(4) Dorong ibu untuk menjaga kehangatan tubuh bayi (menyusui dengan metode Kangguru).

(5) Jelaskan kepada ibu dan keluarga tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir dan bagaimana cara memanggil bantuan yang tepat.



(6) Lakukan perawatan biasa: berikan Vitamin K, salep mata antibiotik, dan imunisasi hepatitis B.

(7) Lakukan pemantauan bayi secara hati-hati setelah resusitasi selama 2 jam pertama. Perhatikan tanda-tanda kesulitan bernafas pada bayi, yaitu adanya tarikan intercostal, napas yang terengah-engah, frekuensi pernapasan > 60 kali per menit, bayi kebiruan atau pucat, bayi lemas.


Autis: Definisi, Penyebab, Gejala, Deteksi, Masalah Kesehatan, dan Penatalaksanaannya

Autis: Definisi, Penyebab, Gejala, Deteksi, Masalah Kesehatan, dan Penatalaksanaannya


Anak Autis
Credit: commons(dot)wikimedia(dot)org


Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Angka kejadian autis di seluruh dunia diperkirakan antara 6,5–6,6 per 1000 anak (Myers, et al., 2007). Sejak tahun 1980, terjadi peningkatan sampai 40% di Kanada dan Jepang. Autis juga terjadi pada 6.000-15.000 anak di bawah usia 15 tahun di Amerika Serikat.

Menurut The Center for Disease Control (CDC) dan Prevention Autism and Developmental Disabilities Monitoring (ADDM) jumlah penderita autis di Amerika Serikat pada akhir tahun 2009 ditemukan 1:110 pada anak usia delapan tahun didiagnosa dengan autisme (Lottatore-French, 2010). Saat ini di Indonesia belum diketahui jumlah pasti penyandang autis, namun diperkirakan lebih dari 400.000 anak. (Kelana & Larasati, 2007). Perbandingan anak penderita autis antara laki-laki dan perempuan adalah 2,6-4:1 (Judarwanto, 2006).

Autis dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan anak, seperti aktivitas sehari-hari di rumah maupun di sekolah. Seluruh anggota keluarga penderita autis juga harus beradaptasi dengan keadaan anak autis tersebut. (Myers, 2007).

Penelitian yang dilakukan Bilgin dan Kucuk (2010) menunjukkan tingginya tingkat stres orangtua yang memiliki anak autis dibandingkan dengan orangtua yang tidak memiliki anak autis. Ibu merasa hidupnya dalam keadaan stres dan mempunyai beban yang berat karena perilaku autis yang dialami anaknya, harapan dan peran di masa depan dan kompleksitas perawatan anak autis di rumah

► Definisi Autis


Autis adalah suatu kecacatan perkembangan yang kompleks, sering kali tampak pada usia tiga tahun pertama (Galinat, et al, 2005). Hal ini senada dengan pernyataan Schieve, et al (2007) yang mendefinisikan autis sebagai gangguan perkembangan saraf yang muncul di usia awal kehidupan (sebelum usia 3 tahun) dengan karakteristik kelemahan yang sangat berarti dalam interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku.

Pendapat lain menyatakan bahwa autis adalah penyakit dialami seumur hidup, yang tidak jelas penyebabnya, karena itu pengobatannya tidak diketahui dengan pasti (Elder & D’Alessandro, 2009). Selain itu, Phetrasuwan (2009) menjelaskan bahwa Autism Spektrum Disorders (ASD) merupakan sekelompok penyakit yang sangat erat kaitannya dengan gangguan neurobiologi.

Muncul sebelum usia 3 tahun dengan karakteristik adanya hambatan dalam interaksi sosial, keterlambatan yang berat dalam komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas. Jadi autis adalah gangguan perkembangan syaraf yang ditandai dengan adanya hambatan dalam interaksi sosial, bicara dan bahasa serta perilaku yang khas, tampak sebelum anak berusia 3 (tiga) tahun, yang memerlukan penanganan seumur hidup anak dan menimbulkan dampak pada anggota keluarga yang lain.

► Penyebab Autis


Hingga saat ini penyebabnya belum diketahui secara pasti. Suryana (2004) mengatakan autis dapat disebabkan oleh faktor genetik, yang meliputi gangguan pada kromosom 7 dan kromosom 15; faktor prenatal, intranatal, dan postnatal; gangguan interpretasi sensori dan faktor makanan.

Judarwanto (2006) menjelaskan bahwa penyebab autis belum diketahui secara pasti. Diduga autis disebabkan oleh multifaktorial, seperti gangguan biokimia, gangguan psikiatri/jiwa, kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang menyebabkan kerusakan pada usus besar sehingga timbul masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

► Gejala Autis


Menurut Phetrasuwan (2009) ada 3 (tiga) masalah utama dalam gangguan perkembangan yang dialami oleh anak dengan Autistic Disorder, yaitu:

- Gangguan interaksi sosial (seperti gangguan perilaku non verbal, kurangnya hubungan dengan teman sebaya, kesulitan dalam berbagi kesenangan dan minat dengan orang lain) dan kurangnya hubungan timbal balik dalam hal emosional dan sosial.

- Keterlambatan yang cukup parah dan kurangnya keterampilan komunikasi bahasa, gangguan kemampuan untuk memulai dan mempertahankan komunikasi dengan orang lain, menggunakan bahasa yang berulang-ulang, dan ketidaksesuaian dalam bermain imitasi sosial.

- Pola perilaku, minat dan aktivitas yang khas dan berulang

Karakteristik yang sering tampak pada anak dengan autis menurut Elder & D’Alessandro (2009) adalah keterlambatan bahasa dan bicara; gangguan yang berkaitan dengan sosialisasi serta perilaku atau rutinitas yang terbatas dan khas.

Pola bicara yang aneh; mengulang kata atau kalimat (Echolalia/scripting); menggunakan kata-kata yang tidak masuk akal dan berbicara dengan suara yang monoton juga sering menyertai anak autis. Gejala yang berkaitan dengan gangguan sosialisasi meliputi kontak mata kurang, memandang orang lain dari samping; mengabaikan atau menghindari kontak sosial serta ketidakmampuan melakukan empati
atau melihat dari perspektif orang lain.

Sementara gejala perilaku atau rutinitas yang khas dan terbatas meliputi anak tampak kaku, rutinitas sangat terstruktur; anak mengalami distres akibat adanya perubahan jadwal atau rutinitas; anak tampak asyik dengan hal-hal yang sama; pergerakan tubuh yang berulang seperti mondar-mandir, bertepuk tangan, menjentikkan jari, bergoyang-goyang, dan memukul dirinya sendiri serta kadang-kadang menangis dan berguling-guling tanpa sebab (tempertantrum).

Sering kali anak tidak sensitif terhadap nyeri dan suhu; perilaku impulsif dan keterbatasan kesadaran akan rasa aman; kedekatan yang tidak biasa terhadap benda-benda mati seperti mainan, tali atau benang, atau benda yang bergoyang-goyang. Anak juga dapat berespon secara abnormal terhadap sensasi (suara, cahaya, sentuhan); kadang-kadang seperti tidak mendengar, tetapi sebaliknya kadang-kadang hipersensitif terhadap suara; serta mengalami ketakutan dan reaksi yang tidak biasa (terhadap anjing, tangisan bayi atau suara orang batuk).

► Deteksi Autis


Ada beberapa alat screening yang saat ini telah berkembang dan dapat digunakan untuk mendiagnosa autis yaitu:

Childhood Autism Rating Scale (CARS), The Checklist for Autism in Toddlers (CHAT), Modified Cheklist for Autism in Toddlers (M-CHAT), The Autism Screening Questionaire / Social Communication Questionaire (SCQ), The Screening Test for Autism in Two-Years Old, Pervasive Developmental Disorders Screening Test (PPDST), The Developmental Behaviour Checklist-Early Screen (DBC-ES) serta Early Screening of Autistic Traits (ESAT) (Eaves, 2004, Wong et al, 2004, Gray et al, 2008)

► Masalah Kesehatan pada Anak Autis


Scarpinato, et al (2010) menyatakan bahwa masalah kesehatan yang sering dialami anak autis adalah kejang, gangguan tidur, gangguan saluran cerna dan gangguan psikiatri. Kejang sering kali berkaitan dengan epilepsi, dialami oleh sekitar 11-39% anak autis. Kejang ini terjadi puncaknya pada usia 2 tahun sampai sebelum usia 5 tahun, dan sekali pada masa remaja. Sedangkan gangguan tidur dialami oleh 44-83% anak autis dengan gejala sulit tidur, bangun lebih cepat, kurangnya rutinitas tidur dan pola tidur-bangun yang tidak teratur.

Sementara gangguan saluran cerna yang sering terjadi adalah diare, konstipasi, nyeri abdomen kronik, dan sensitif terhadap makanan. Gejala gangguan mood, agresif, fobia, perilaku obsesif konvulsif, depresi dan ADHD sering kali
menandai adanya gangguan psikiatri pada anak autis.

Penelitian yang dilakukan oleh The Center for Disease Control dan Prevention’s of Autism and Developmental Disabilities Monitoring, menunjukkan bahwa terdapat 62% dari anak penderita autis mengalami disabilitas atau epilepsi. Dari angka tersebut, 68% mengalami retardasi mental dan/atau gangguan intelektual, 8% mengalami epilepsi, 5% mengalami cerebral palsy, dan mengalami gangguan penglihatan serta ketulian masing-masing 1%.

Kira-kira 25% anak penderita autis juga mengalami Attention Defisit and Hyperactive Disorder (ADHD). Gangguan mental seperti kecemasan dan depresi juga sering terjadi (Lottatore-French, 2010)

► Penatalaksanaan pada Anak Autis


Menurut Myers (2007), tujuan penanganan pada anak autis adalah memaksimalkan tingkat kemandirian fungsional dan kualitas hidup anak dengan meminimalkan gejala, memfasilitasi perkembangan dan proses belajar anak, mengembangkan sosialisasi, mengurangi perilaku maladaptif serta mendidik dan mendukung keluarganya.

Peran perawat profesional dalam penanganan anak autis adalah mengenali gejala autis, melaksanakan rujukan untuk evaluasi diagnostik, melakukan penyelidikan terhadap penyebab, memberikan konseling genetik, mendidik pengasuh anak (termasuk orangtua) tentang autis, perawatan dan penanganannya.

Beberapa program penanganan pada anak autis antara lain adalah :

● Intervensi Pendidikan pada Anak Autis


Pendidikan di sini didefinisikan sebagai kegiatan untuk membantu pencapaian keterampilan dan pengetahuan anak autis agar mereka dapat mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab pribadi. Program ini tidak hanya melalui pembelajaran secara akademis, tetapi juga melalui sosialisasi, keterampilan adaptif, komunikasi, memperbaiki perilaku yang terganggu, dan memperkenalkan anak pada lingkungan umum (Myers, 2007)

● Applied Behavioral Analysis (ABA) pada Anak Autis


Metode ini digunakan untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku adaptif yang diinginkan, mengurangi perilaku maladaptif atau mengurangi kondisi yang memungkinkan itu terjadi, mengajarkan perilaku, lingkungan atau situasi yang baru (Myers, 2007). Metode ini juga digunakan untuk membentuk perilaku positif pada anak autis, dikenal dengan metode Lovaas (Ratnadewi, 2008)

● Terapi Bahasa dan Bicara pada Anak Autis


Tujuan terapi ini adalah agar anak autis dapat melancarkan otot-otot mulutnya sehingga mereka dapat berbicara lebih baik (Suryana, 2004). Anak autis lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners / visual thinkers). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan keterampilan komunikasi (Myers, 2007).

● Tetapi Okupasi pada Anak Autis


Hampir semua anak autis mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Terapi okupasi dilakukan untuk melatih otot-otot halusnya dengan benar. Terapi ini juga membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan ototnya. (Suryana, 2004).

● Terapi Fisik pada Anak Autis


Autis adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris membantu anak autis memperkuat otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya. Hal ini disebabkan karena banyak penderita autis mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasar. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus.

● Terapi Sosial pada Anak Autis


Masalah yang paling mendasar pada anak autis adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi. Mereka membutuhkan pertolongan dalam keterampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama di tempat bermain. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan perilaku sosial pada anak autis, meminimalkan perilaku yang stereotip, dan membentuk keterampilan perilaku yang baru (Myers, 2007).

● Terapi Integrasi Sensori pada Anak Autis


Bertujuan untuk meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga anak mampu meningkatkan kapasitas belajarnya. Dengan aktivitas fisik yang terarah, diharapkan dapat menimbulkan respon yang adaptif, sehingga efisiensi otak makin meningkat.

● Terapi Bermain pada Anak Autis


Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi sosial. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu. Terapi ini merupakan terapi psikologis pada anak, dengan menggunakan alat permainan sebagai sarana untuk mencapai tujuan (Ratnadewi, 2008).

● Terapi Biomedik pada Anak Autis


Tujuan terapi ini adalah untuk memperbaiki metabolisme tubuh melalui diet dan pemberian suplemen (Ratnadewi, 2008).